Kelotok, Transportasi Tradisional Kalimantan Selatan

KG Value Card

Value People, pernah berkunjung ke Kalimantan Selatan atau di wilayah sekitar ibukota Banjarmasin? Wilayah ini terkenal dengan sungai-sungai besarnya yang membelah daratan. Banjarmasin sendiri disebut sebagai Kota Seribu Sungai karena banyaknya sungai yang berada di sana. Sebut saja sungai Barito, sungai Kuin dan sungai Martapura.  Tak heran bahwa masyarakat di sana banyak yang bergantung pada kelotok, transportasi tradisional Kalimantan Selatan.

Ya, oleh karena letaknya yang dilalui sungai-sungai besar, banyak dari masyarakat Kalimantan Selatan yang bergantung pada kelotok, transportasi tradisional Kalimantan Selatan. Seperti apa bentuknya?


Kelotok sebenarnya adalah perahu motor yang dikemudikan oleh seorang
supir. Perahu yang terbuat dari kayu ini dapat dijumpai di berbagai sudut sungai di kota Banjarmasin, hingga wilayah yang lebih jauh dari ibukota Banjarmasin,  seperti Martapura hingga desa Aranio yang letaknya dekat dengan waduk Riam Kanan.

Hampir 75% wilayah Kalimantan Selatan dihuni oleh suku Banjar. Banyakdari masyarakat di sana yang tinggal di rumah-rumah tradisional yang letaknya dipinggir sungai. Rumah tradisional itu biasanya dibangun di atas tonggak-tonggak kayu galam.


Oleh karena di sekeliling mereka terhampar sungai, sehingga untuk menghubungkan satu  tempat ke tempat lain, mereka menggunakan kelotok. Kelotok mampu mengangkut penumpang 10 hingga 15 orang sekali angkut.


Selain sebagai transportasi, kelotok juga difungsikan sebagai daya tarik bagi wisatawan yang ingin berkeliling sungai Martapura, atau menyusuri sungai Barito sambil menikmati pemandangan jembatan Barito yang megah. Harga sewa kelotok bervariasi tergantung tujuan. Untuk berkeliling di sekitar jembatan Barito, satu kelotok dihargai sekitar Rp 500.000,- dengan penumpang sekitar 10 orang.

Di pusat kota Banjarmasin, kelotok juga berfungsi sebagai warung makan selain sebagai alat transportasi pengangkut. Jadi, jangan heran jika sedang berada di Banjarmasin dan melihat ada soto banjar yang dijual di dalam perahukayu sebagai warungnya. Uniknya lagi, kelotok itu dibuat mirip warung dengan meja makan untuk pelanggan. Nah, apabila memutuskan untuk mencoba makan di warung soto ini, harap berhati-hati! Jangan sampai kuah sotonya tumpah karena goyangan arus sungai, ya!


Oleh : V. Arnila Wulandani

© 2014 - 2018 KOMPAS GRAMEDIA.
Website by PandavaMedia